Pawai Ta’ruf MTQ Sultra, Syekh Abdul Wahid jadi Ikon Kafilah Busel

Metro277 views

Kendari, SATUSULTRA – Pemerintah Kabupaten Buton selatan (Busel) menjadikan Syekh Abdul Wahid sebagai ikon saat pawai ta’ruf pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke XXIX tingkat provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Syekh Abdul Wahid adalah tokoh besar penyebaran Islam di tanah Buton yang masuk melalui wilayah Busel.

Pj. Bupati Busel, La Ode Budiman berujar, pemilihan Syekh Abdul Wahid sebagai ikon, dimaksudkan untuk menanamkan semangat juang pada Kafilah Busel yang akan berjuang mengharumkan nama daerah. Busel juga menampilkan dan memperlihatkan keanekaragaman adat dan budaya di Bumi Gajah Mada.

Saat menyaksikan pawai, La Ode Budiman dan para pejabat Busel, tampil dengan mengenakan pakaian adat sebagai komitmen dalam melestarikan nilai-nilai warisan leluhur. “Peserta pawai asal Kabupaten Buton Selatan itu ada sebanyak 152 orang. Dan tentunya dengan mengenakan pakaian adat Buton Selatan memberikan warna tersendiri dalam ajang pembukaan MTQ ke-29 Sultra di Kota Kendari,” tuturnya, Rabu (10/8/2022).

Kata dia, selain memperkenalkan adat dan budaya Bumi Gajah Mada, pawai tersebut juga menampilkan tokoh besar penyebar ajaran Islam di Buton Selatan. Diantaranya, Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani, Syekh Tun Muhammad Kamaluddin dan La Ode Hasani bin La Ode Idrus Kaimuddin yang dilakoni oleh pemuda Bumi Gajah Mada.

“Dengan menghadirkan lakon para tokoh besar siar Islam di Buton Selatan tentu akan memberikan spirit dan semangat juang para Kafilah kita dalam mengharumkan nama daerah di tingkat Provinsi Sultra. Dan kami yakin Syekh Abdul Wahid Terpatri di Jiwa Kafilah Buton Selatan,” katanya.

Budiman menambahkan, pawai ta’ruf MTQ ke-29 tingkat Provinsi Sultra tahun 2022, Busel mengusung tema Pelayaran Zuhud Asabhangka Asarope, Labu Wana Labu Rope. Budaya asabhangka asarope merupakan spirit kebersamaan dalam balutan satu kata, satu sikap dan satu tindakan untuk mencapai tujuan bersama. Apapun tantangan pelayaran, solidaritas akan tercipta karena kesamaan tujuan, bukan semata- mata kesamaan asal daerah.

“Pemkab Busel menempatkan miniatur bhangka (perahu tradisional) sebagai ikon dalam perhelatan MTQ ini. Dimana, komitmen ini dibangun merupakan gambaran bagi masyarakat Buton Selatan seburuk apapun cuaca, tidak menyurutkan niat untuk berlayar dalam mengarungi samudra,” jelasnya.

Selain bhangka, Busel juga menempatkan miniatur Masjid Zaetul Mu’minina sebagai masjid tertua di Sultra yang berada di Desa Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Busel. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1527 M, oleh Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani.

“Selain tak kenal lelah dalam memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita bersama, masyarakat Buton Selatan juga tentunya memiliki keimanan yang cukup tinggi. Olehnya itu kami menjadikan Masjid Zaetul Mu’minina sebagai salah satu ikon dalam perhelatan MTQ ke-29 tingkat Provinsi Sultra,” tandasnya. (c)

reporter : Putra Butuni
editor : Linri

Komentar