Seluruh keluarga dan handai taulan alm. Letda Marinir Muhammad Ikbal, telah berkumpul di kediaman orangtuanya di Desa Anggatoa- Wawotobi. Isak tangis dari keluarga yang berdatangan, masih menjadi pemandangan yang mengharu biru hingga sore tadi. Semuanya menunggu jasad almarhum yang encananya akan diterbangkan dari Papua menuju Kota Kendari – Sulawesi Tenggara, menggunakan pesawat Lion Air, Senin (28/3) esok sore.
Kedua orangtua almarhum Letda Ikbal, “belajar” memahami kehendak sang Pencipta dengan mengikhlaskan kepergian anak mereka, walau itu tak mudah. Namun, nyatanya Maris dan Hartini lagi-lagi tak mampu membendung airmata, saat wanita pujaan almarhum, datang jauh-jauh dari Kota Surabaya- Jawa Timur usai mendengar kabar kematian Letda Marinir Muhammad Ikbal.
Namanya Jasinta Firda Pratiwi. Wanita berparas ayu itu, tiba di rumah duka pukul 17.15 WITA. Mengenakan kemeja merah maroon dan jilbab hitam, Sinta begitu ia kerap disapa, langsung memeluk Maris yang tengah menunggu kedatangannya di teras rumah. Sinta sesenggukan di bahu Maris, calon ayah mertuanya.

Ternyata, hubungan almarhum Ikbal dan Sinta, akan disahkan dalam ikatan tali suci pernikahan, usai lebaran Idul Fitri tahun ini. Sayang, takdir berbicara lain. Sinta yang berprofesi sebagai perawat di sebuah Rumah Sakit (RS) di Kota Surabaya, harus memupus angannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan sang kekasih, akibat kebiadaban KST Nduga di Papua. Berbulan-bulan tak pernah bertatap muka sejak tahun 2021 lalu, gadis Jawa itu akan segera “bersua” dengan pujaan hatinya dalam suasana yang berbeda. Bukan wajah rupawan Ikbal yang akan ia lihat, namun jasad terbujur kaku berbalur peti mati yang akan ia saksikan besok.
Tak ada kata yang terucap dari bibir mungilnya, melainkan hanya helaan nafas dan isak tangis yang terdengar. Tak percaya, tapi itu nyata. Tubuh Sinta luruh, tak sadarkan diri sampai-sampai dia harus dibopong masuk ke dalam rumah. Kakak almarhum Ikbal, Misna, berulang kali mengusap wajah Sinta dengan tangannya yang telah dilumuri minyak kayu putih, agar segera sadarkan diri.
“Sabar nak. Kita tidak inginkan ini terjadi, tapi sudah takdirnya Allah. Berat memang, tapi kita harus ikhlaskan, supaya almarhum tenang. Kita doakan nak Ikbal agar diampuni dosa-dosanya sama Allah dan ditempatkan di surga. Aamiin yaa rabbal aalamiin,” tandas Maris, mencoba menenangkan calon mantunya. (*)
Komentar