Maris dan Hartini tak bisa tidur malam kemarin. Bahkan hanya untuk sekadar memejamkan mata, sulit rasanya bagi kedua orangtua almarhum. Usai salat subuh Minggu (27/3) tadi, keduanya sibuk menenggelamkan diri dengan melantunkan Qalam Ilahi, untuk ananda tercinta. Jika Hartini tadarus di kamar, Maris lebih memilih tadarus di tempat salatnya.
Kakak almarhum, Misna, secara diam-diam, merekam aktifitas bapak dan ibunya itu via Hand Phone (HP). Ia juga tak kalah sedihnya, bahkan berteriak sambil menangis pilu, saat mengetahui adik kesayangannya, berpulang di usia yang masih sangat muda di tengah karirnya yang cemerlang dan tengah menanjak. Seluruh keluarga tak menyangka, anak, adik, kakak, kemenakan dan cucu kebanggaan mereka, telah pergi untuk selama-lamanya menghadap sang pencipta.
Menurut Misna, adiknya itu memiliki akhlak yang terpuji. Jauh sebelum menyandang predikat perwira TNI AL, keluarga besar mengenal almarhum sebagai anak yang berperangai sangat baik. Itu dibuktikan ketika almarhum telah menyandang pangkat Letnan Dua (Letda) Marinir. Bungsu 4 bersaudara itu, selalu menjaga komunikasi dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya, bahkan saat masih mengikuti pendidikan sebagai siswa Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya, ia selalu menyempatkan waktu “Menyapa” mereka. Setelah lulus dengan predikat terbaik, almarhum tak lupa mengirimkan setengah gajinya, sebagai wujud bakti pada ibu bapaknya di kampung halaman, Desa Anggatoa Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
“Sopan kasian ini adeku, baru baik sekali. Selalu dia kirimkan i Oma (Mama-red) dengan i Opa (Bapak) uang tiap bulan. Tidak pernah lupa dia telepon kita semua. Dia mi harapan keluarga,” katanya sembari mengingat moment kebersamaannya dengan sang adik tercinta.
Misna dan suami yang juga marinir TNI AL, telah menyiapkan anak sulung mereka, Tama, untuk mengikuti jejak sang paman, menjadi seorang perwira AL. Saat cuti kerja, suami Misna, Kopda Marinir, Langa Halulanga, menggembleng dan melatih langsung anaknya latihan renang. Sayang, ajal keburu menjemput almarhum Ikbal. Dia pun sangat terpukul mendengar kabar, ipar kebanggaannya itu telah pergi menghadap Sang Pencipta. Dalam unggahan status WhatsApp-nya, Langa menulis caption “Putus Harapan”, pertanda ia sulit berdamai dengan kenyataan.
Dari kabar yang diterima pihak keluarga, Ikbal tengah melaksanakan shalat Maghrib bersama 9 rekannya, saat KKB yang sudah di cap negara sebagai Kelompok Separatis Teroris (KST) Nduga, menyerang Pos Satgas Mupe Yonif Marinir-3 yang berada di Kwareh Bawah, Kennyam, Kabupaten Nduga, Papua. Ikbal yang merupakan komandan peleton (Danton) Satgas Mupe Yon Mar III, bertindak selaku Imam salat. Di saat itulah, KST menyerang dan melumpuhkan 10 Pers Pos Quary Bawah. Danton berwajah rupawan tersebut, langsung meninggal di tempat. Sementara 2 kritis dan 7 mengalami luka tembak, tapi kondisinya masih stabil.
“Lagi salat magrib kasian mereka ditembak. Sedih sekali, tidak ada yang sangka dia mau cepat meninggal. Baik sekali kasian ini anak,” kata Dewi, salah seorang kerabat almarhum.
Komentar