Kolaka, SATUSULTRA – Setelah empat bulan masa tanam uji coba enam varietas padi unggul yang dimulai pada November 2025 lalu, PT Vale Indonesia bersama Pemkab Kolaka dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar panen bersama di area Demonstrasi Plot (Demplot) pada Senin, (9/3/2026), di desa Puubunga Kecamatan Baula, Kolaka yang turut dihadiri oleh Sekda Kolaka Akbar, Head Eksternal Relation Growth PT Vale, Endra Kusuma, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti, jajaran Forkopimda, dan kelompok tani.
Pada uji coba enam varietas ini, PT Vale Indonesia menggandeng Pemkab Kolaka, kelompok tani, serta BRIN untuk mengintegrasikan riset dan teknologi budidaya padi berkelanjutan yang presisi, adaptif terhadap kondisi agroklimat lokal, serta ramah lingkungan.
Enam varietas unggul yakni varietas PR25, PR107, Bujang Marantau, Trisakti, Menthik Wangi, dan Menthik Susu, diuji pada lahan demplot seluas 36 are, terdiri dari 10 are budidaya organik dan 26 are budidaya konvensional. Selain itu, diterapkan pula inovasi teknologi Perennial Rice dan sistem Salibu, yang memungkinkan panen berulang tanpa penanaman ulang. Melalui sistem ini, petani berpotensi melakukan panen hingga delapan kali dalam satu kali tanam, sehingga mampu mengurangi biaya benih, persemaian, dan pengolahan lahan hingga 50 persen.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti mengatakan untuk mencapai ketahanan pangan dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah dan sektor industri, serta BRIN. Kolaborasi ini akan melahirkan inovasi yang bermuara pada peningkatan produktifitas pertanian.
Hal itu jelasnya, terlihat dari uji coba di Demplot yang menunjukkan perbedaan karakter dan hasil produksi dari setiap varietas.
“Sekarang hasilnya dapat kita lihat bahwa masing-masing varietas memiliki karakter yang berbeda,” ujar Widiastuti saat memberi sambutan.
Di tempat yang sama, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudistira Nugraha menjelaskan dari enam varietas yang diujicobakan, varietas Trisakti memiliki keunggulan pada masa tanam yang lebih singkat yakni hanya 68 hari, dibanding varietas lain yang masa tanam hingga panennya berkisar 100 hari. Trisakti juga menunjukkan hasil panen prediksi sebesar 7,2 ton.
“Tapi bibitnya belum bisa dilepas (ke petani), karena proses pelepasan varietas tanaman itu tergantung pengujiannya, biasanya satu tahun proses sidang dan sebagainya, yah, bisa satu setengah tahunlah, baru bisa dilepaskan ke masyarakat,” ungkapnya.
Setelah hasil pengujian, Yudistira menyebut seluruh varietas yang diujicobakan itu dapat beradaptasi dan ditanam di Kabupaten Kolaka. Hanya saja, jika nanti varietas Trisakti telah dilepas ke masyarakat, harus ditabur sekitar 20 hari setelah penaburan varietas lain, agar dapat dipanen bersamaan.
“Secara prinsip ini dapat di tanam (di Kolaka) karena perlakuan yang diberikan, sama dengan (pola tanam) petani,” kata Yudistira
Uji coba di Demplot yang dilakukan PT Vale ini turut menguji sistem Salibu ratoon rice, yaitu membiarkan tunas (ratoon) baru tumbuh dari sisa batang padi hasil panen, sehingga dapat dilakukan panen berulang kali pada satu masa tanam. Salibu berasal dari bahasa Minang, singkatan dari Satu kali tanam, Lima kali panen.
Namun dijelaskan Yudistira, tidak semua jenis padi cocok dengan sistem Salibu ratoon rice. Karena itu, BRIN mengujicobakan dengan varietas bibit padi yang dibawa dari China. Varietas ini memiliki keunggulan regenerasi yang tinggi sehingga cocok ditanam dengan sistem Salibu ratoon rice.
Sistem ratoon rice yang masih memanfaatkan batang sisa panen padi untuk ditumbuhkan dan dipanen lagi, disebut sebagai parennial crop. Kata Yudistira, parennial crop berbeda dengan sistem annual crop (musiman) yang hanya memanen padi sekali pada satu masa tanam saja.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka, Akbar, mengatakan bahwa pemerintah daerah menyambut baik dukungan PT Vale dalam pengembangan inovasi pertanian di Kolaka. Teknologi yang diuji melalui kegiatan riset ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya usaha tani.
“Kami berterima kasih atas pengembangan teknologi pertanian ini. Harapannya petani bisa bekerja lebih efisien dan hasil produksinya meningkat,” kata perwakilan pemerintah daerah.
Head Eksternal Relation Growth PT Vale, Endra Kusuma, mengatakan, penguatan sektor pertanian masyarakat merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih tangguh.
“Kami melihat pertanian berkelanjutan sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Melalui program ini, PT Vale tidak hanya mendorong peningkatan produktivitas, tetapi juga mentransfer pengetahuan, teknologi, dan praktik pertanian yang lebih efisien serta ramah lingkungan kepada para petani,” ujar Endra.
Ia menambahkan bahwa model demplot ini diharapkan dapat menjadi laboratorium pembelajaran bersama yang dapat direplikasi di wilayah lain di Kabupaten Kolaka. (*)
Editor : Indri













Komentar