Bupati Koltim Dorong Percepatan dan Pencegahan Stunting

Daerah273 views

Kolaka Timur, SATUSULTRA – Bupati Kolaka Timur Abd Azis, menunjukkan keseriusannya untuk menekan angka stunting di Koltim. Saat menghadiri Pertemuan aksi III Rembug Stunting Nasional di aula kantor desa Lalowosula, kecamatan Ladongi, Rabu (30/8/2023), ia mengajak semua pihak berkolaborasi untuk menekan angka stunting Koltim.

Saat ini angka stunting di Koltim mencapai 23,07 persen. Abd Azis yakin, dengan kerja keras semua elemen, angka ini bisa turun menjadi 14 persen pada tahun 2024, sesuai target nasional.

“Yang terpenting adalah kolaborasi, sinergi, dan kita bergotong royong menyelesaikan semua persoalan. Karena yang namanya stunting, bukan hanya makanan yang kurang, tetapi kondisi insfrastruktur,kondisi sanitasi, kondisi rumah, termasuk dengan eduksi terkait pernikahan dini,” ungkap bupati.

Salah satu hal yang disebut bupati turut menjadi faktor meningkatnya stunting adalah pernikahan dini. Di Koltim sendiri, ia menerima laporan telah terjadi pernikahan pada anak usia 12 tahun.

“Ini mugkin nanti dari pimpinan OPD terkait, termasuk dengan Kementrian Agama untuk bagaimana mengedukasi hal ini. Kalau tidak salah pernikahan dini ini juga bisa terdampak masalah stunting. Insyaallah kalau kita berkolaborasi semua, mudah-mudahan di desa Lalowosula yang mana ada 20 KK yang terdampak stunting, bisa kita tekan,” sebutnya.

Salah satu langkah melawan stunting, suami dari ketua TP PKK Koltim Hartini Azis ini meminta dilaksanakannya program orang tua asuh.

“Sekarang ini ada pimpinan OPD tinggal ditunjuk saja. Saya pikir kalau ini semua bergerak bersama insya allah bisa tercapai,” jelasnya.

Pelaksanaan rembuk stunting merupakan langkah penting dan strategis bagi pemerintah kabupaten kolaka timur, dalam menjalankan dan mendeklarasikan komitmen bersama untuk menyepakati pelaksana intervensi spesifik, dan intervensi sensitif guna pencegahan serta percepatan penurunan stunting.

Kata bupati, dalam penyelenggaraan percepatan penurunan angka stunting, dibutuhkan pendekatan intervensi yang kompersensif mencakup aspek penyiapan kehidupan berkuarga pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan untuk pelayanan kesehatan,serta peningkatan akses air minum, serta sanitasi.

“Dalam proses percepatan penurunan stunting agar di lakukan pendataan dengan baik dan harus kita verifikasi secara faktual di lapangan, verifikasi setiap desa ada berapa baik apgres nanti kita pastikan mana warga kita, masyarakat kita yang terdampak stunting. Kita verifikasi faktual dulu kita miping mana-mana setelah itu kita intervensi secara nyata di bawah, kita intervensi secara utuh, kita libatkan bapak asuh, sehingga ini nyata penyelesaian stunting di lapangan,” tandasnya. (c)

Reporter : Dhery Hermansyah
editor : Linri

Komentar