Kendari, SATUSULTRA – Terus dibombardir soal La Ode Tariala, yang tidak mendapatkan kursi saat pelaksanaan rapat kerja wilayah (Rakerwil) dan sekolah legislatif Partai Nasdem, Ali Mazi gerah juga. Tak mau terus menerus disalahkan, Ketua DPW Partai Nasdem Sultra itu pun angkat bicara, menangkal bola panas agar tak terus menggelinding.
Dengan nada suara yang tenang namun menohok, Ali Mazi mengatakan, Tariala harusnya pandai menempatkan diri. Harus mengingat, dari mana ia berasal dan siapa yang membawanya ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem.
Tak sampai disitu, Ali Mazi bahkan terang-terangan menyebut, jabatan ketua DPRD Sultra yang saat ini melekat pada La Ode Tariala, merupakan pemberian cuma-cuma alias gratis dari dirinya. Tariala tidak punya keringat lebih, dalam mencapai posisi puncak seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra.
Makanya, mantan gubernur Sultra itu, heran bukan kepalang, mengapa orang yang pernah ia angkat, bisa lupa diri dari mana ia berasal dan bagaimana ia bisa ada di posisi mentereng seperti yang kini telah dinikmati Tariala.
“Itu Tariala yang bawa saya. Yang kenalkan ke pusat juga saya. Jadi ketua DPR gratis. Apa lagi? Enak tinggal duduk,” katanya.
Luapan kekesalan terus dilontarkan Ali Mazi di balik ketenangan suara baritonnya. Sebagai seorang politisi, kata dia, seseorang bisa hidup berkembang karena kebersamaan. Kalau tidak pernah bersama-sama, maka itu bukan sikap seorang politisi.
Dia pun heran dengan sikap Tariala yang seolah nyaman dengan kondisinya saat ini. Bagi Ali Mazi, harusnya Tariala pandai membaca situasi, lalu menanyakan pada hatinya sendiri, nyamankah dia dengan posisinya saat ini sebagai Ketua DPRD Sultra, tapi seolah tak dipercaya, bahkan tak dianggap oleh partai sendiri?
“Kalau saya sih malu. Artinya kita kalau nda dipercaya, gimana? kan kepercayaan. Kira-kira ko nyaman nggak? Enak nggak? Yah, lebih baik hidup berdampingan. itu lebih bagus, seperti awal kita,” ujarnya.
Pengacara nasional itu, terang-terangan menyinggung Tariala yang seolah tak menganggapnya, bahkan tidak pernah sowan ke dirinya. Selama sepekan Ali Mazi berada di Kota Kendari, tariala tak pernah memunculkan batang hidung di hadapannya. Inilah yang membuat dia heran sekaligus bingung dengan sikap Tariala yang seolah tak menganggap keberadaaannya sebagai Ketua DPW Nasdem Sultra. Jangankan menemuinya, kontribusi untuk partai pun, tak ada.
Contoh nyata, Rakerwil dan sekolah legislatif Partai Nasdem yang dihadiri langsung Ketua Bappilu DPP Nasdem, Prananada Surya Paloh, Sekjen Partai Nasdem, Hermawi F. Taslim dan petinggi DPP Nasdem lainnya, yang dilaksanakan di Kota Kendari, Senin (18/5/2026) lalu. Dimana, ketua DPRD Sultra tak punya andil dalam mensukseskan acara akbar tersebut. Makanya, Ali Mazi lalu menganalogikan sikap Tariala, “ibarat telur mata sapi”, ayam yang bertelur, namun sapilah yang punya nama, seperti itulah ia menggambarkan karakter Tariala.
“Kita sebagai politisi bisa hidup berkembang, kan kebersamaan. Kalau ko tidak pernah bersama, bagaimana coba?
Apa lagi kalau sebagai ketua, ya bersama-samalah teman-teman. Silaturahmi, datang kunjung-mengunjungi, saling harga-menghargai,” jelasnya.
“Saya sudah seminggu di sini, nda pernah dia (Tariala-red) ke kantor. Itu juga sa aneh juga, bagaimana seorang panitia? Ini seperti telur mata sapi. Kalau begitu, bagaimana perasaannya? Bagaimana perasaan teman-teman yang kerja. Ini kan senasib sepenanggungan, bukan musuh. Yang ada itu hidup kebersamaan, itu baru namanya berpartai,” tambahnya.
Menurut Ali Mazi, Tariala harusnya lebih bijak dalam berpartai dan berpolitik. Harus membangun kebersamaan dengan sesama kader dan partai. Sebab, keduanya satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mantan gubernur Sultra 2 periode itu, akhirnya tak bisa menyembunyikan lagi, seperti apa Tariala di matanya. Makanya dia tak menyalahkan panitia Rakerwil dan sekolah legislatif Partai Nasdem, yang tak memberikan kursi khusus bagi Tariala di bagian depan membersamai petinggi DPP Nasdem di acara yang baru saja terlaksana.
“Jadi kalau ada perasaan pak Tariala, kenapa duduk di belakang? ya kalau kau tidak pernah bekerja, bagaimana? Kau nda pernah pegang pacul, tiba-tiba datang, kau di depan. Ya Kasian dong yang kerja,”
Lalu apakah Tariala akan dilengser dari jabatan Ketua DPRD Sultra? Ali Mazi mengaku menyerahkan sepenuhnya ke DPP, sebab bukan kewenangannya. Namun sekali lagi, ia meminta Tariala untuk menanyakan pada hatinya, kenyamanan yang dirasakan saat ini.
“Itu urusan DPP untuk memanggil. Saya ketua wilayah. Cuma kalau saya, dia tanya hatinya. Kira-kira kau nyaman nggak? enak nggak? Kalau perlakuan teman-teman menganggap tidak ada, ya karena memang tidak ada. Kalau ada, kan setiap hari dia ada di kantor, duduk-duduk. Saya juga tidak minta apa-apa. Kita Nasdem cuma saling pengertian, tidak ada saling intrik, karena dari pimpinan kami, pak Surya mengajarkan untuk bersahabat, kekeluargaan, gotong royong, saling toleransi dan hormat menghormati,” tandasnya. (*)
Reporter : Linri Merinda













Komentar