AI dan Medsos, Tantangan Sekaligus Ancaman Bagi Media dan Jurnalis Dalam Penyajian Berita

Kendari, SATUSULTRA – Media saat ini tidak lagi menjadi sumber rujukan utama berita. Bahkan, posisi wartawan yang dulunya menjadi sentral dari lahirnya sebuah berita, kini telah tergantikan dengan kerja Artificial Intelligence (AI) dan media sosial (Medsos). Ini menjadi tantangan bagi keberlangsungan kerja wartawan dan industri media, dalam pemenuhan perlindungan hak cipta di era digital.

Koordinator Wilayah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Indonesia Timur, Dr. M. Djufri Rachim, mengatakan, dunia digital telah mengubah cara sebuah media dan wartawan dalam melahirkan sebuah berita, dari pola yang masih menjunjung tinggi etika profesi, beralih menjadi pola baru yang mengandalkan kerja AI.

“Dunia digital telah mengubah cara kita berkarya, utamanya kehadiran media sosial dan AI. Dulu produksinya, berita menjadi hak preorogatif wartawan saat itu. Begitu pun saat kita menyebarkan berita, masih menggunakan media cetak, TV dan Radio. Itu yang jadi rujukan saat itu. Sekarang, media berubah,” katanya, saat menjadi pemateri dalam Sosialisasi Hak Cipta dan Etika Publikasi Digital : Tantangan dan Peluang Bagi Akademisi dan Media yang dilaksanakan di salah satu Coffee shop di Kota Kendari, Ahad (17/5/2026).

Selain pola pemberitaan yang tak lagi didominasi oleh media dan wartawan, Djufri juga bahkan mengamati pergeseran perolehan informasi. Jika dulunya masyarakat hanya mengkonsumsi berita, saat ini masyarakat bahkan sudah menjadi produsen yang menghasilkan berita itu sendiri.

“Sekarang, semua bisa membuat berita dan mengambil foto. Semua sudah menjadi produsen. Masyarakat sudah menjadi produsen berita. Tapi kemudian muncul masalah baru. Kita bisa me-re-upload atau kita mengeksploitasi karya jurnalistik orang lain, tanpa mencantumkan sumber aslinya dan ini yang baru kami mediasi di Gorontalo. Ada karya jurnalistik yang diambil konten kreator, tanpa mencantumkan sumbernya. Dia sudah diingatkan, tapi karena merasa punya power, jadi dia abaikan. Sekarang berproses hukum,” jelasnya.

Terkait dengan itu, dosen Program Studi Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) tersebut, menggarisbawahi pentingnya bagi media dan wartawan, memahami hak cipta di era digital. Dimana, hak cipta merupakan karya yang dilindungi yang mencakup tulisan, foto, video, musik, desain, karya jurnalistik, konten digital hingga karya digital. Sehingga, tidak asal mencomot foto atau berita milik orang lain. Sebab banyak pelanggaran yang sering terjadi dan dialami oleh banyak media saat ini.

“Foto jurnalis diambil lalu water mark dihapus, info grafik media diunggah ulang tanpa sumber. Hampir semua medsos kita sama isinya, pengambilan foto tanpa izin dari pemilik aslinya dan pengambilan berita. Di grup jurnalis, ini sering jadi perdebatan. Dua wartawan yang liput, 10 orang yang tulis. Saya berpikir, hebat sekali ini wartawan. Baru-baru dari Konsel, 1 jam kemudian sudah ada di Konawe. Rupanya, dia mengambil berita
orang dari grup yang sama,” ujarnya.

Menurutnya, tak menjadi soal apabila seseorang mengambil berita dari orang lain. Namun dengan memperhatikan prinsip menjunjung tinggi etika di ranah publik, yakni dengan tanpa mengabaikan pencantuman darimana sumber asli berita atau foto yang di re-upload .

Djufri juga menyinggung bagaimana AI bekerja. Menurutnya, AI generatif belajar dari data digital dalam jumlah besar, termasuk didalamnya artikel, foto, video, musik, arsip media, jurnal ilmiah dan dari konten kreator. Semua itu menjadi ancaman bagi media, karena AI dapat merangkum berita tanpa membuka situs media, karya jurnalis menjadi bahan pengetahuan AI. Tapi media tidak mendapat manfaat ekonomi dari aktifitas tersebut.

“Sadar nggak sadar, kita dijajah VOC zaman sekarang, yaitu youtube dan google. VOC zaman dulu mengambil rempah-rempah. Nah zaman sekarang, rempah-rempahnya ya dari foto, video dan berita yang kita publish. Yang buat mereka makin banyak, karena rempah-rempah yang disediakan,” tambahnya.

“Saya amati, beberapa tahun silam AI tidak terlalu pintar, tapi karena rempah-rempah dia kumpul-kumpul, sehingga jadi bernilai. Boleh kita kutip, asal jangan keseringan. Boleh untuk menambah kepercayaan publik terhadap kita, tapi kita tulis dan cantumkan sumbernya. Fakta yang harus kita junjung tinggi. Saya tidak terlalu mendewakan kecepatan, tapi siapa yang paling menjaga kredibilitas,” tandasnya. (*)

Reporter : Linri Merinda

Please follow and like us:
Pin Share

Komentar